Home » , , , , , , , » Kisah Haru Seorang Istri Setia Part-1

Kisah Haru Seorang Istri Setia Part-1

Semoga kita tidak termasuk orang yang terlambat menyadari anugerah indah yang telah Allah berikan kepada kita. Cintai dan Sayangi orang-orang di sekitar kita sebelum semuanya berlalu dan terlambat menyadarinya.

Cerpen ini berkisah tentang seorang istri yang berjuang melawan kanker dan mempertahankan cintanya pada sang suami. Lalu difitnah oleh keluarga suaminya hingga suaminya menikah lagi. Pada akhir hayatnya si istri menuliskan isi hatinya buat suami tercinta. Penyesalan datangnya selalu terlambat, ternyata sang istri tak seperti yang disangkakan.

Sebelumnya siapkan makanan kecil dan minuman secukupnya, jangan lupa tisu juga ya.
Kisah ini akan sedikit menyita waktu Anda, juga menguras air mata.
Selamat membaca dan merenung........

Tulisan asli oleh: dnec-5th

*********
************************

Hari itu... aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta kami..
Aku pun menjadi perempuan yg paling bahagia..... .
Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan dan mapan pula
Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah......
Suamiku pria yang sangat romantis dan baik...

Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya.
Kami berbulan madu di tanah suci... itu janjinya ketika kami berpacaran
Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci....
Aku sangat bahagia dengan nya... dia sangat memanjakan aku.... Sangat terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku..
Banyak orang yang bilang, kami pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku sungguh bersyukur bisa menjadi istrinya.

*********

5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun kami hanya berdua saja.
Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu - satunya dalam keluarga nya.. jadi aku harus berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya...
Alhamdulillah suamiku mendukung ku.... Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan NYA.
Tapi keluarga nya mulai resah.. Dari awal kami menikah ibu dan adiknya tidak menyukaiku.. aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka.. tapi aku menutupinya dari suami ku......

Didepan suami ku, mereka sangat baik pada ku. Tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka...
Hingga suatu ketika, saat 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan... mobilnya hancur.

Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda.
Ia dirawat dirumah sakit. Pada saat dia belum sadarkan diri, aku selalu menemaninya siang dan malam, kubacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, aku sibuk bolak-balik rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat didalam kamar rumah sakit sudah ada ibu mertuaku, adik-adiknya dan teman - teman suamiku, dan satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan ibunya. Mereka tertawa menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar tapi aku tak boleh sedih di depannya.
Kubuka pintu yg tertutup rapat itu, sambil mengucap salam "Assalamu'alaikum"
mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya melambai mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya Setelah aku menghampirinya, ku cium tangannya sambil berkata "Assalammu'alaikum", ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih tapi penuh dengan cinta.
Aku pun senyum melihat wajahnya.

Ibu nya lalu berbicara sama aku ...
"Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri"
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga.

Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan,,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku. Baru sebentar aku membersihkan mukanya tiba-tiba adik ipar ku yg bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Aku pun menemaninya.

Sesampainya di luar adik ipar ku berkata, " lebih baik kau pulang saja! Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja di rumah."
Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat, karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi tiba - tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg sama, ia akan memberi alsan pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan pada nya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata. Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

********* ********* *******

Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain. Pagi itu, pada saat aku membersihakn pekarang rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami, sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya, "Ada apa Bang memanggil ku?"

Ia berkata, " Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang. "
Aku menjawab," Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan?"
"Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku kan pulang dengan mama ku," Jawab lagi.

"Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?" tanya ku balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahu rencana kepulangannya itu, padahal aku bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
"Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti," jawab nya tegas

"Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, iya kan?" lanjut nya lagi sambil memeluk ku dan mencium keningku.. Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.
Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya.

Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu pada ku karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar ia saja yg pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh keluarga nya harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluannya yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam seakan terjadi sesuatu tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama - sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya pembantu saja teman ngobrolku.

Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.
Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi kepergiannya.
Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya pada suamiku. Dia pasti akan selalu menelpon ku.

********* ********* ********* ********

Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri.
Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami buruk,saat ia di sana aku pun jatuh sakit...rahimku sakit sekali seperti dililit oleh tali...tak tahan aku menhan rasa sakit dirahimku ini,sampai - sampai aku mengalami pendarahan.. aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki - lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.... Aku menangis, apa yang bisa aku banggakan lagi,,mertuaku akan semakin menghinaku, suami ku yang malang, yang berharap akan punya keturunan dari rahimku... Aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan aku hanya memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang.. kapan ia pulang, aku tak tahu..
Sementara suamiku disana,,aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku.. bagaimana aku akan cerita kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku.

Lebih baik aku tutupi dulu.. dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita pada nya.
Setiap hari aku menanti suami ku pulang, hari demi hari aku hitung....

Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk. Ku buka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms, ia menulis,"aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku aku kabarin lagi".

Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba.. aku menantinya di rumah. Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap salam, sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya...

Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik keatas, ia langsung mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

Biasa nya kami selalu berjama'ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya, aku elus wajahnya, aku cium kening nya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka'at.


14 Comments
Comments

14 komentar:

  1. mengharukan! sumpe ampe nangis nih...

    BalasHapus
  2. lagi'' air mataq terjatuh setelah membaca cerita ini
    cerita yg sgt mengharukan

    BalasHapus
  3. alleycia fairuza qanitah9 Februari 2011 02.11

    sangad sangad mengharukan.............air mata ini tak dapat di kontrol lagi menangis aq smpe kesesek en..........

    BalasHapus
  4. Rida ariestia N.9 Februari 2011 03.40

    Wow...bgs bgt critan e. Menyentuh,mengharukan. Sumpe,lho...air mata mengucur tak terbendung.

    BalasHapus
  5. terharu banget baca ceritanya belajar sabar dalam menghadapi peristiwa walaupun itu pahit سُبْحَانَ اللّه

    BalasHapus
  6. bagus bgt ceritanya bikin terharu sampe nangis top bgt...

    BalasHapus
  7. Subhanallah,,crta ini mbt aq nangis tak hnti2'a..

    BalasHapus
  8. sungguh mengharukan,,,, subhanallah,,,, sampai air mata mengucur tak terbendung~~ Masya Alloh,,,

    BalasHapus
  9. subhknallah terahru sekali membacanya :(

    BalasHapus
  10. subhanallaaaaaaaahhh....... terharuuuuuu bangeeeeet......

    BalasHapus
  11. subhanallaah....sangat menghrukan,,,bsa ga y pnya istri setegar n sekuat dy,,,ga bakal gw sia2in dech....T.T

    BalasHapus
  12. crita nya sungguh mengharukan seorang istri yg sangat hormat dan cinta kpd suaminya smoga aq bisa mnjadi seorang istri yg sholehah yg kuat dengan terpaan badai seperti dy..subhanallah
    sampe ngucur terus nih air mata...

    BalasHapus